Adi Sanggoro
Home
Thursday, 11 March 2010
Main Menu
Home
Alas Consultants
SMK Adisanggoro
Pondok Sengked
Training Center
Hosting
Digital Library
Nilai On Line
Forum On Line
Webmail
Photo Gallery
Contact Us
Search
Login Form
Nama anggota

Kata sandi

Ingat saya
Lupa kata sandi anda
Belum terdaftar menjadi anggota? Silakan mendaftar di sini.
Syndicate
Newsflash
Perkembangan Internet sebagai media informasi yang tanpa batas telah menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.Kondisi yang mana membuat kita melupakan dua masalah pokok yang berhubungan erat dan membutuhkan solusi dengan segera: perlindungan privasi dan membangun kepercayaan antara individu dengan komputer, masyarakat dengan komputer, serta sesama anggota masyarakat yang termediasi oleh komputer. Salah satu alasan kurangnya privasi pastilah sifat Internet yang tak berbatas. Tanpa adanya aturan yang mendefinisikan informasi di Internet macam apa yang personal, dan tanpa adanya batas-batas penggunaan informasi tersebut bagi pihak ketiga, banyak data tentang Anda tersedia untuk diambil. Dan banyak juga orang yang bersiap mengambilnya. Internet telah menyuburkan perkembangbiakan "perusahaan" pemantau penggunaan Web. Mereka memilih berdasarkan profil-profil pribadi yang dibuat saat Anda mengunjungi suatu situs dan kemudian menjual data tersebut kepada orang lain. Internet juga menjadi surga bagi para "pemburu elektronik". Begitu banyak situs yang menawarkan jutaan nomor telepon dan alamat, ada lagi yang dapat memasok nomor Jaminan Sosial dan data Surat Ijin Mengemudi, bahkan ada lagi yang bisa menelusuri data tentang dana kampanye politik. Baik pesan e-mail maupun transaksi finansial pada jaringan publik tidak seluruhnya aman dari mata-mata pengintip. Umumnya hal ini disebabkan oleh lemahnya kombinasi keamanan pada perusahaan-perusahaan pengelola situs dan kecerobohan orang yang melakukan transfer informasi. Celah celah yang bisa dimanfaatkan oleh para hacker untuk mengetahui kegiatan orang saat browsing di internet biasanya melalui email, browser, cookie dan spam.
Mimpi Yang Berpacu Dengan Sengat Maut
, kontribusi dari Hendar Putranto   
Tuesday, 28 November 2006
Memasuki wilayah kebudayaan kontemporer menjelang tibanya milenium ketiga, kita diajak bertamasya ke dalam sebuah dunia teka-teki, penuh misteri, kontradiksi, ilusi, halusinasi, ekstasi dan simulasi. Kita memasuki sebuah panorama realitas-realitas baru, yang kaya warna, kaya nuansa, kaya citra, yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seakan-akan kita memasuki sebuah wilayah fiksi ilmiah, sebuah wilayah masa depan, sebuah wilayah alien (Piliang: 1998, 23). Wilayah masa depan itu bisa jadi terletak dalam dunia di mana ruang publik dengan ruang privat menjadi semakin tipis batasnya. Batas yang tipis itu bahkan semakin mengabur dan menjadi semakin transparan sehingga mereka yang berada di ruang batas yang satu dapat membelalakkan matanya untuk melihat apa yang sedang dikerjakan seorang individu di ruang yang lain, atau sebaliknya. Dalam realitas semacam itulah film Requiem ini hadir. Ia menawarkan mimpi sekaligus merenggut mimpi itu dari keindahan dan buaiannya. Ia menggugat mimpi sekaligus memuji-mujinya. Requiem bertanya dan terheran-heran atas realitas mimpi dan konsekuensinya (apakah memang demikian adanya?). Ia seakan-akan bingung, "Apakah mimpi memang sudah menjadi barang komoditi televisi? Apakah mimpi menjadi mainan yang diproduksi dan di-reproduksi tanpa mempedulikan lagi seni bermimpi dan si individu yang mempunyai hak istimewa atas mimpi-mimpinya?"

Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 28 November 2006 )
Baca selanjutnya...
Geliat Identitas dan Pergulatan Mencari Makna
, ditulis oleh Roni Baskoro   
Tuesday, 21 November 2006
Geliat Identitas dalam Jejaring Kebudayaan Lokal – Global

Sebuah Sketsa Penafsiran [1]

oleh Hendar Putranto [2]


Pengantar

Sekitar 2 bulan yang lalu, saya mendapati sebuah kenyataan yang menurut saya aneh. Saat itu saya sedang main ke rumah seorang teman. Di situ ada anak-anak muda berusia 20-an tahun hendak pergi latihan band. Saya tertarik dan bertanya kepada mereka: "Kalian mau main lagu apa? Linkin Park? Red Hot Chilli Peppers? Hoobastank?" (saya bertanya demikian dengan membawa asumsi bahwa anak-anak muda sekarang tentu menyukai lagu-lagu alternatif/rock populer yang sering ditayangkan di MTV dan diputar di radio-radio gaul anak muda, seperti yang dulu saya alami jaman SMA). Tak disangka-sangka mereka menjawab, "Wah, kami mainnya Cucak Rowo dan Bengawan Solo, mas." "Oh ya?" setengah terkejut, saya bertanya lagi "Kok lagu-lagu seperti itu yang dipilih?" Jawab mereka, "Kalau bukan orang-orang kita sendiri yang menyanyikan lagu-lagu daerah, tradisional, siapa lagi, mas? Lagipula kami enjoy kok menyanyikannya."

Peristiwa kedua terjadi ketika saya menonton sinetron Bajaj Bajuri selama bulan Ramadhan yang lalu. Biasanya saya enggan menonton sinetron made in Indonesia karena (pada umumnya) aktingnya dangkal, jalan ceritanya tidak logis, setting tidak membumi dan cenderung memanipulasi emosi. Namun saat saya menonton Bajaj Bajuri saya mendapati sesuatu yang lain. Dialognya segar dan bercerita tentang persoalan sehari-hari yang dialami orang-orang kecil di Jakarta. Aktingnya tidak dibuat-buat dan setting-nya pun sederhana sehingga terasa dekat dengan keseharian. Rupanya pengamatan dan penilaian saya tidak berhenti di situ. KOMPAS Minggu tanggal 28 November yang lalu juga menurunkan artikel mengenai Bajaj Bajuri berjudul 'Potret Rakyat dari Komedi Jelata'. Berikut kutipannya, "Ketika sinetron berlanskap rumah gedongan dan mobil mulus meriah di televisi, penonton disodori komedi rakyat Bajaj Bajuri tayangan Trans TV. Komedi situasi yang memotret kehidupan rakyat jelata itu seperti menarik penonton dari awang-awang. Bajaj Bajuri mengajak orang melihat wajah bangsa sendiri—dan ternyata digemari. Lanskap kampung, bajaj kumuh dengan sopir gendut, plus masalah sehari-hari rakyat jelata ternyata membuat penonton betah menikmati."

Peristiwa ketiga menyangkut sebuah cultural event yang rutin diadakan di Jakarta sejak tahun 1999, yaitu JIFFEST (Jakarta International Film Festival). 5 tahun terakhir ini saya dengan rajin mengikuti perkembangan JIFFEST baik dalam arti menonton film maupun mengikuti diskusi. Yang menarik bagi saya adalah dalam tiap penyelenggaraannya selalu disediakan 'hidangan lokal' dalam sajian internasional. Pada tahun 2000, misalnya, disediakan 'Focus on Garin Nugroho', 'Djajakusuma Retrospective', 'New Indonesian Cinema' (diwakili film-film "Sherina", "Pachinko", "Bintang Jatuh", dan "Sebuah Pertanyaan untuk Cinta"), 'Amateur Videos by High School Students', 'Issues on Contemporary Islamic Culture' (yang di antaranya memutar film-film besutan anak bangsa seperti "Atheis" karya Sjuman Djaja, "Titian Serambut Dibelah Tujuh" dan "Al Kautzar" karya Chaerul Umam). Tahun 2004 ini disediakan 'JIFFEST Short Film Competition' yang diikuti oleh sineas-sineas muda dari seluruh Nusantara, 'Diskusi Situasi Perfilman Indonesia Masa Kini', 'Retrospective Usmar Ismail & Sjuman Djaja', 'All About Indonesia' (termasuk diputarnya film-film dokumenter yang menyoroti Pemilihan Umum 2004 yang lalu). Meskipun mungkin tidak seberapa besar jika diukur dari jumlah audiens yang datang menonton atau peserta yang berpartisipasi dalam diskusi, namun panitia JIFFEST tetap committed untuk menyediakan ruang bagi hidangan lokal ini.

Dari tiga fenomena budaya yang saya sajikan sebagai pengantar ini, betapapun terbatasnya, saya mencoba untuk masuk ke dalam pokok bahasan kita hari ini "Penciptaan dialog di antara  budaya lokal dan global." Dalam paper singkat ini saya mencoba membaginya ke dalam tiga bagian pokok, yaitu: apa itu budaya lokal dan global, di manakah atau seperti apakah "benturan" budaya lokal dan global itu, dan pokok-pokok persoalan apa yang bisa disarikan dari diskusi/debat seputar budaya lokal dan global tersebut sekaligus sejumlah tawaran saran untuk menciptakan dialog di antara keduanya.

Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 21 November 2006 )
Baca selanjutnya...
Polls
Apa yang paling sering Anda lakukan waktu akses Internet ?
  
Who's Online
Saat ini terdapat 2 pengunjung online
 
Copyright 2000 - 2005 Adi Sanggoro.All rights reserved.
Powered by Mambo dan dikembangkan oleh TEAM ADI SANGGORO BOGOR.